Sabtu, 19 Maret 2016

REFLEKSI 3: MATEMATIKA MODEL



Senin, 14 Maret 2016
Pukul 09.20 – 11.00 di ruang 201B Gedung Lama PPs UNY

Gity Wulang Mandini
15709251054
Pendidikan Matematika Kelas D

Struktur hermenitika dari matematika model dilihat dari filsafa ialah sebagai berikut. Sebelum membahas mengenai struktur hermenitika ini, alangkah baiknya kita mengetahui dulu pengertian dari struktur itu sendiri. Struktur ialah mencari unsur ontologis. Contoh dasar dari unsure ialah sebagai berikut:
1.        Dalam matematika ialah terdapat unsur yang didefinisikan hingga unsur yang tidak dapat didefinisikan.
2.        Dalam biologi unsurnya ialah DNA.
3.        Dalam psikologi ialah unsure satuan (unit pemahaman).
4.        Dalam statistika yaitu unsur atau unit kejadian.
Unsur ontologis dalam filsafat merupakan objek filsafat. Objek tersebut yaitu yang sangat kita pahami yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Hal yang ada inilah yang meliputi semua hal yang dapat dipikirkan manusia. Unsur yang akan dibahas disini merupakan unsur dasar dalam ontologis.
Objek “Ada” ini jika dihermenitikakan akan mengasilkan 2 hal yaitu hal yang tetap dan hal yang tidak tetap atau berubah. Yang tetap berada di dalam pikiran kita dan hal yang berubah di luar pikiran. Hal yang berada di dalam pikiran kita ini dapat di nalar sedangkan yang berada di luar pikiran ialah secara alami. Unsur yang secara alami ini dapat berupa dari pengalaman sehingga akan menjadi real maka terbentuklah realisme. Yang merupakan tokoh realisme adalah Aristoteles. Sedangkan hal yang dapat dinalar ialah rasionalisme. Tokoh dari rasionalisme adalah Plato.
Logika sangat dibutuhkan dalam segala aspek. Maka muncullah logicism. Berdasarkan hal ini maka kita ketahui bahwa pikiran ini bersifat analitik. Analitik ini contohnya a priori karena a priori ini bersifat tetap atau konsisten maka kebenarannya menjadi koheren. Sehingga muncullah filsafat koherentism. Kebenarannya disini ialah cocok dengan persepsi. Cocok ini ialah suatu korespondensi. Maka dari itu muncullah filsafat korespondensionalism.
Antara R. Descrates menyatakan tidaklah terdapat ilmu bila tak ada rasio dan D. Hume menyatakan tidak ada ilmu bila tidak ada pengalaman. Adanya pertentangan antara dua tokoh tersebut kemudian muncullah Imanuel Kant sebagai penengahnya. Ia menyampaikan bahwa antara ilmu dan pengalaman itu merupakan hal yang berkaitan. Ilmu menurut Imanuel Kant yaitu sintetik dan a priori. Menurutnya bahwa matematika murni belum merupakan suatu ilmu.
Selanjutnya muncullah Aguste Compte yang menengahi segala pertentangan yang ada sebelumnya. Maka ia membuat buku yang berjudul positovisme. Dalam bukunya ia menjelaskan hal yang diperlukan dalam membangun dunia dipandang dari 3 unsur berukut:
1.        Agama
2.        Filsafat
3.        Positivisme (Saintifik)
Hendaknya dalam mempelajari suatu hal, kita harus mengetahui asal mula dari hal tersebut. Agar kita mengetahui maknya sebenarnya. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan unsur ontologis dari hermenitika dilihat dari hal yang “Ada”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar