Senin,
14 Maret 2016
Pukul 09.20 – 11.00 di ruang 201B Gedung Lama
PPs UNY
Gity
Wulang Mandini
15709251054
Pendidikan Matematika Kelas D
Struktur hermenitika dari
matematika model dilihat dari filsafa ialah sebagai berikut. Sebelum membahas
mengenai struktur hermenitika ini, alangkah baiknya kita mengetahui dulu
pengertian dari struktur itu sendiri. Struktur ialah mencari unsur ontologis. Contoh
dasar dari unsure ialah sebagai berikut:
1.
Dalam matematika ialah terdapat unsur yang
didefinisikan hingga unsur yang tidak dapat didefinisikan.
2.
Dalam biologi unsurnya ialah DNA.
3.
Dalam psikologi ialah unsure satuan (unit
pemahaman).
4.
Dalam statistika yaitu unsur atau unit kejadian.
Unsur ontologis dalam filsafat
merupakan objek filsafat. Objek tersebut yaitu yang sangat kita pahami yaitu
yang ada dan yang mungkin ada. Hal yang ada inilah yang meliputi semua hal yang
dapat dipikirkan manusia. Unsur yang akan dibahas disini merupakan unsur dasar
dalam ontologis.
Objek “Ada” ini jika
dihermenitikakan akan mengasilkan 2 hal yaitu hal yang tetap dan hal yang tidak
tetap atau berubah. Yang tetap berada di dalam pikiran kita dan hal yang berubah
di luar pikiran. Hal yang berada di dalam pikiran kita ini dapat di nalar
sedangkan yang berada di luar pikiran ialah secara alami. Unsur yang secara
alami ini dapat berupa dari pengalaman sehingga akan menjadi real maka
terbentuklah realisme. Yang merupakan tokoh realisme adalah Aristoteles.
Sedangkan hal yang dapat dinalar ialah rasionalisme. Tokoh dari rasionalisme
adalah Plato.
Logika sangat dibutuhkan dalam
segala aspek. Maka muncullah logicism. Berdasarkan hal ini maka kita ketahui
bahwa pikiran ini bersifat analitik. Analitik ini contohnya a priori karena a
priori ini bersifat tetap atau konsisten maka kebenarannya menjadi koheren.
Sehingga muncullah filsafat koherentism. Kebenarannya disini ialah cocok dengan
persepsi. Cocok ini ialah suatu korespondensi. Maka dari itu muncullah filsafat
korespondensionalism.
Antara R. Descrates menyatakan
tidaklah terdapat ilmu bila tak ada rasio dan D. Hume menyatakan tidak ada ilmu
bila tidak ada pengalaman. Adanya pertentangan antara dua tokoh tersebut
kemudian muncullah Imanuel Kant sebagai penengahnya. Ia menyampaikan bahwa
antara ilmu dan pengalaman itu merupakan hal yang berkaitan. Ilmu menurut
Imanuel Kant yaitu sintetik dan a priori. Menurutnya bahwa matematika murni
belum merupakan suatu ilmu.
Selanjutnya muncullah Aguste
Compte yang menengahi segala pertentangan yang ada sebelumnya. Maka ia membuat
buku yang berjudul positovisme. Dalam bukunya ia menjelaskan hal yang
diperlukan dalam membangun dunia dipandang dari 3 unsur berukut:
1.
Agama
2.
Filsafat
3.
Positivisme (Saintifik)
Hendaknya dalam mempelajari suatu
hal, kita harus mengetahui asal mula dari hal tersebut. Agar kita mengetahui
maknya sebenarnya. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan unsur ontologis dari
hermenitika dilihat dari hal yang “Ada”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar